Archive for the 'de Boyz' Category


Thu
3

Potongan Rambut 2008

Thursday, January 3rd, 2008

Untuk tahun 2008, potongan rambut de boyz begini…

Perdana masih tetap menyukai potongan ala jambul. Sepertinya dia sudah nyaman dengan style yang beginian. Rambut dipotong agak cepak terutama sisi kanan- kirinya, terus bagian spike-nya alias jambul potongannya dibiarin agak tebal.

Bedanya dengan gaya spike sebelumnya, kali ini Perdana terinspirasi gaya sisiran Chow Yun-Fat pemeran si The King dalam film Anna And The King. Rambut seluruhnya disisir ke belakang termasuk si jambul. Sebelumnya dibasahi dulu sama air sampe basah betul tuh rambut untuk memberi kesan wet look, baru deh disisir ke belakang. Pemakaian gel terpaksa dihindari karena belum nemu juga gel rambut yang emang khusus buat anak-anak. Yang ada di pasaran sini adalah gel rambut buat orang dewasa, yang takutnya bila keseringan dipake oleh anak-anak akan mengganggu pertumbuhan rambut mereka. Jadi buat pengganti gel rambut, basahi aja rambut sama air, lebih natural kan hehehe…

Well… gaya rambut Perdana yang sekarang sangat menunjang penampilan dia yang penuh kedewasaan :D.

Kalo Afkar, sekarang dia demen banget sama gaya rambut acakadut alias berantakan alias lagi gak pernah sisiran. Untuk membuat dia tampak lebih fresh, rambut sengaja dipotong agak pendek-an. Pola cukurannya sama dengan yang Perdana, hanya buat Afkar spike-nya dibikin gak begitu terlalu panjang, cukup sebatas poni ala Dora.

Gaya sisirannya begini… Sehabis mandi biarkan rambut tampak basah, gak perlu dihanduk. Kalopun terpaksa dihanduk karena rambut terlalu basah, cukup bagian belakangnya saja. Jangan sentuh rambut bagian samping kanan-kiri, apalagi bagian atas. Setelah itu rambut bagian atas cukup diuyel-uyel pake tangan. Caranya siapkan jemari tangan boleh kanan atau kiri, lalu masukkan di sela-sela rambut seperti kalo kita pake sisir rambut. Lalu dengan menggunakan kedua tangan majukan rambut bagian atas tadi dari arah belakang, lantas dengan sedikit tekanan tinggikan tatanan rambut. Baru setelah itu lepaskan tangan dari tatanan rambut. Biarkan alami rambut bagian belakang dan samping kanan-kiri. Ingat-ingat gak perlu pake sisir sama sekali.

Mau tahu dia niru gaya rambut siapa..? Meneketeheee… bener-bener nih aku juga gak tahu gaya rambut siapa yang dia tiru ya… Wong Bapaknya juga sisirannya gak begitu kok. Dia sendiri yang menciptakan ide gaya rambut begitu, naturalis. Dan memang gaya yang begini cocok buat dia yang berpenampilan sok jaim hehehe….

*******************

Salon by : Daddy.

Photos by : Mommy (makanya foto2nya rada-rada gimanaaa gituu hehehe… sulit banget sih motretin mereka atau ibunya kali ya yang gak pinter motret huuuuu… :p).


Sat
10

Gak Ada yang Sempurna

Saturday, November 10th, 2007

Mau curhat ahh…

Sebagai pasutri, kita berdua tuh banyak memiliki kekurangan. Wajar toh, namanya juga manusia tak iye, gak ada yang seratus persen sempurna. Sana-sini ada kurangnya deh. Tapi bagusnya, Tuhan ngatur agar kelebihan yg satu, akan melengkapi kekurangan yg lain. Itu namanya jodoh kali yaaa…

Aku nulis gini gara-gara suatu pagi, Perdana minta aku bikinin sarapan scrambled egg sama toast. The real scrambled egg Mom, dia bilang. Glekss… wah bikin repot emaknya nih si anak, minta sarapan gaya wong londo segala. Mana pake tekanan, the real scrambled egg. Mbok ya sarapannya tuh yang gampang-gampang saja, kayak cornflake dituangin susu. Wess… sehat bergizi tur gak ribet.

Lha, tapi apa susahnya scrambled egg sama toast? Kan cuma minta dibikinin telur sama roti bakar?

Justru itu. Kalau soal roti yg di-toast sih sipiiill… Tinggal ambil roti, masukin ke toaster, lalu penjet tombol, tunggu sebentar dan… jeggling! jadi deh.

Lalu telurnya? Nah, ini yang jadi masalah. Apalagi dengan tuntutan Perdana… the real scrambled egg!! Biarpun aku tuh cinta bangeettt sama yang namanya memasak, tapi kalo disuruh bikin scrambled egg, wuihh… bisa panas dingin eykeh.

Entah kenapa, kalo aku yang bikin scrambled egg, jadinya gak bisa perfecto deliciosto. Hasilnya membuat konsumen tidak puas. Scrambled egg bikinanku tuh cenderung gagal. Kadang jadi kekerasan, hingga memper sama telur mata sapi. Kadang putih dan kuning telurnya tercampur terlalu rata kayak bikin telur dadar. Harusnya kan yang namanya scrambled egg tuh, telur yang teraduk dan tercampur, tapi masih tampak mana yang putih dan kuninganya. Teruuss hasil gorengannya tuh gak terlalu matang, kayak masih setengah matang lewat dikit, jadi pas dimaem terasa lembutnya.

Untungnya, ya itu tadi… kita adalah pasutri dengan segenap kekurangan dan kelebihan yang bisa saling melengkapi. Berbahagialah diriku berpasangan sama mas G, yang ternyata sangat handal membuat scrambled egg. Biarpun status mas G di rumah adalah ATM, alias Asisten Tukang Masak hihihi… tapi dia bisa mengalahkan posisi head-chef kalo bikin si telur itu. Scrambled egg bikinan mas G mak nyuuss, kayak kalo kita makan di hotel2 berbintang, campuran telurnya bagus, hasil gorengannya lembut, apalagi kalo ditambahin keju hmm… perfecto. Dijamin deh… siapapun yang menikmati scrambled egg-nya mas G gak bakalan berpaling hehehe… *iklan kecap no.1 kaliii*.

Makanya kalo the kids minta sarapan scrambled egg, aku pura2 gak dengar aja, biar mas G yg trus bikinin hehehe…

Ada lagi satu kehebatan mas G yang membuat posisi-ku sebagai koki-utama di rumah terancam. Bolehlah aku dikasi sejumlah bahan masakan, bisa dipastikan pikiranku langsung kemana-mana sampe akhirnya tuh bahan2 bisa menjadi masakan yang lezat.

Tapiii… jangan taruh mi instan (kayak in**mie, su***rmie, de el el) di depanku. Percayalah mi instan tersebut gak bakalan jadi sajian yang beres. Kalo yang kumasak mi instan rebus, ia jadinya tuh bakalan benyek, terlalu mateng. Mi nya terlalu lama direbus, sehingga pas dimakan sama kuahnya udah kayak mi bubur aja wuahahaha…

Beda lagi kalo urusan mi instan goreng. Yang ini malah sering kekerasan, pertanda masih setengah mtang, alias kurang lama masaknya. Kesimpulannya, puyeng deh kalo urusan mi instan ini. Jadi kalo tiba2 aku dan the boys pingin maem mi instan, tinggal teriak aja, Daaddd… bikinin dong!

Jadi bener kan, kita orang gak ada yang totally sempurna? Memang Allah tuh Maha Adil ya. Tahu banget kalo aku gak bisa bikin scrambled egg sama mi instan. Maka dipasangkanlah aku sama mas G buat menutupi kekuranganku itu.

:D Have a nice wiken semuanyaa…


Tue
18

Spring… The Eighth

Tuesday, September 18th, 2007

1999… Spring di Adelaide

Lelaki Kecilku… ingatkah kau dengan lagu itu..? Lagu yang entah kenapa setiap kali kita terbangun tengah malam, selalu saja terdengar dari radio 5AD. Untuk mengusir kesepian kita di tengah malam buta, sengaja aku menghidupkan radio clock, dan lagu itu dengan manisnya kita dengar berdua.

 

Ah… saat itu Lelaki Kecilku, seringkali aku menghitung waktu… Kapankah kau berhenti mengganggu malam-malamku..? Tak bisakah kau membiarkanku menikmati malam dengan mimpi-mimpi panjangku? Duh… betapa egoisnya aku, maafkanlah Lelaki kecilku…

 

2007… Spring di Perth

Lelaki kecilku… betapa indahnya menikmati spring di pagi hari dengan senyummu. Kali ini kita menghiasi spring dengan tawamu di kota ini. Ah… jangan lagi kau tanyakan malam-malam panjangku ketika untuk pertama kalinya ku lewati spring bersamamu. Kusimpan rapi itu semua di dasar hatiku sebagai obat rinduku akan masa-masa itu…

Lelaki kecilku… lagu itu masih terdengar merdu di telingaku. Betapa panjang kenanganku bersamamu. Ah… tiada pernah lagi aku menghitung waktu, langkahmu begitu cepat menemaniku.

Lelaki kecilku… spring yang kedelapan kita lalui bersama. Terimakasih kau beri aku waktu di sampingmu. Doa dan harapku di setiap langkahmu. Selamat Ulang Tahun Sayang…


Sat
1

Daddy… d/h Bapak

Saturday, September 1st, 2007

Ketika pertama kali mengenal mas G, itu 18 tahun yang lalu, aku menyapanya dengan sebutan mas. Gak mas gitu doang, tentu saja diikuti dengan nama pendeknya :D. Seperti kebanyakan orang-orang yang mempunyai nama pendek atau nama panggilan, gitu juga dengan mas G. Kayak aku misalnya, nama belakangku kan Utami, tapi dipanggilnya malah jadi Miming. Tau deh gimana ceritanya, dipas-pasin kali ya hehehe… Begitulah disamping Gaffar, ada nama panggilan lainnya buat dia. Dengan nama panggilan itu pertama kalinya aku memanggilnya.

Sampai ketika kami resmi tidak berpacaran lagi alias udah pegang akta nikah, panggilanku buatnya masih tetap sama. Ups… ada panggilan-panggilan khusus jugalah buatnya*suit.. suit*. Panggilannya cukup buat arsip bagi penulis ya, gak bisa dipublis hehehe…

Tahun 1999 silam, aku ngelahirin Perdana di Adelaide. Otomatis dong, begitu punya anak langsung deh kita kepikiran pinginnya dipanggil apa sama si baby Perdana. Tapi seingatku, kami berdua gak pake acara diskusi panjang lebar tentang apa panggilan anak-anak thd kami. Tau-tau aja aku dah menyebut diriku Ibu ketika ngajakin Perdana ngobrol saat itu. Dan aku juga ngerasa bangga dengan sebutan itu. Terus juga karena udah terbiasa aku memanggil Ibuku dengan panggilan ‘Ibu’, jadinya reflek aja kebawa ke Perdana. Seterusnya aku membiasakan Perdana memanggilku Ibu atau Ebo’ dalam bahasa Madura.

Kalo mas G, sama juga, dari hari pertama Perdana brojol langsung menyebut Bapak buat panggilan dia. Karena mas G juga memanggil Bapaknya dengan panggilan Bapak. Jadi kebawa juga gitu… Semuanya mengalir gitu aja.

Jadi ketika Perdana bisa ngomong dengan lancar, dia memanggil kami Bapak sama Ibu, meski kadang keluarnya suara bab-bb… dan bb-buu.. gitu aja. Waktu tahun 2000, setelah mas G selesai S2-nya, kita bertiga balik ke Yogya, masa-masa itu Perdana lagi ceriwis-ceriwisnya, ngomongnya udah lancar. Dia memanggil kami Bapak atau Ibu dengan sangat jelas.

Tahun 2001, si Afkar lahir. Gak ada perubahan panggilan buat kami, tetep Bapak dan Ibu :D. Karena terbiasa mendengar Perdana memanggil kami Bapak dan Ibu, jadi gampang buat si adik untuk meniru.

Tapi entah deh arah angin dari mana, pas mereka tumbuh rada gedean gak lagi bayi precil, e.. kok tiba-tiba ada perubahan dr cara mereka menyebut si Bapak. Entah deh ngedenger dari mana dan siapa yang memulai, dan kapan persisnya mulai, tiba-tiba saja panggilan Bapak ini berubah jadi Daddy. Kalo waktu itu kita lagi di Aussie bisa dimaklumi kali ya. Bisa jadi karena pengaruh lingkungan di sini, jadi kebawa juga manggil Daddy atau Dad gitu. Tapi berubahnya panggilan jadi Daddy ini malah ketika kita sedang di Yogya. Heran juga gitu loh, wong kita hidupnya di Yogya yang seringnya ngedenger panggilan Bapak, Pak’e, Ayah, atau paling2 Papa; lha anak-anak malah berkreasi memanggil Bapaknya jadi Daddy :D. Padahal kita sendiri membahasakan diri tetep Bapak dan Ibu ke mereka.

Kadangan malu juga deh kalo ngedenger the boys manggil mas G Daddy. Kesannya tuh ya sok kebarat-baratan. Trus kesannya lagi, kita tuh sok nggaya mentang-mentang pernah tinggal di luar negeri manggil Bapaknya aja jadi Daddy woehehehe… Tapi suwer deh kita tuh gak ngajarin apalagi maksain mereka manggil Daddy. Asli ini ciptaan mereka sendiri :D.

Lucunya karena mereka terbiasa manggil Daddy, keluarga dan kerabat kita yang lainnya jadi ikut-ikutan juga. Misalnya aja ketika Mbah-nya the boys nanyain mas G ke anak-anak, bilangnya spt ini… Perdana/Afkar Daddy-mu di mana..? Coba juga deh bayangin ada teman ato kerabat kita di Yogya yang logat ngomongnya tuh udah jowo buaangett, trus suka nanyain mas G ke anak-anak kalo pas mampir ke rumah. Kebayang gak pas si kerabat ngomong Daddy-mu mana dengan logat jawa yang kental, apa gak kayak londo nyasar woehehehe…

Nah akibatnya juga aku ikut-ikutan latah manggil mas G Daddy. Gara-gara si the boys nih hehehe… Jadinya aku sekarang jaraaang banget manggil Bapak, ketularan deh :D. Lha nasi dah terlanjur jadi bubur, lidah dah terbiasa manggil Daddy, jadinya bye… bye… Bapak hihihi…

Mas G sendiri keukeuh menyebut dirinya Bapak thd anak2. Rasa-rasanya aku juga belum pernah tuh ngedenger mas G bilang Daddy. Pernah nih mas G berusaha mengembalikan panggilan Bapak seperti semula. Pas kita beli hanpon baru waktu sdh di Perth, mas G sengaja ngerekam suara the boys buat nada sms masuk. Instruksinya begini, mas G ngasi contoh… Bapak ada sms…! Terus Perdana dan Afkar disuruh gantian bilang begitu sambil direkam. Tau gak… yang ada mereka malah bilangnya gini… Daddy ada sms…! wuahaha… Meski diulang berkali-kali, ya tetap aja keluarnya Daddy… Hihihi… sampe kapok deh mas G yang ngerekam, akhire pasrah juga :D.

Yo wes lah, mau Bapak atau Daddy, what so ever ya mas… Pokoke you are the best dad in the world, gak ada duanya. We love you always… Happy Father’s Day…

Enbe… ini adalah posting-ku yang pertama di rumah baru. Selamat datang buat tamu yang berkunjung, silahkan menikmati suguhan cerita-ceritaku di sini.

Bagus gak rumah baruku? :)


Wed
1

Finally It’s Gone…

Wednesday, August 1st, 2007

Pas liburan kemarin, persisnya hari kamis tertanggal 19 Juli, gigi si Afkar yang emang ugal-ugil sejak beberapa waktu yang lalu berhasil copot. Sejak ketauan ada giginya yang goyang, aku suruh Afkar ngasi rangsangan ke gigi itu dengan cara digoyang-goyang sendiri kadang pake ibu jari dia atau dengan lidahnya. Dengan rangsangan begini si wobbly tooth semakin lama semakin melemah sehingga bisa copot dengan mudah. Kalo Afkar lagi bengong, aku ingetin aja dia buat goyangin terus giginya biar ntar gampang nyopotnya.

Tapi… pas ngeliat betapa kecilnya gigi yang goyang itu, aku jadi khawatir juga gimana cara nyabutnya… Duluu pas jamannya pertama kali Perdana copot gigi, kita pake cara dengan mengingat gigi yang goyang sama benang terus kita tarik. Copot deh… tapi giginya udah benar-benar mau copot, pijakan gigi ke gusinya udah tinggal dikiiit banget. Make benang hanya ngebantu kita buat narik gigi. Lagipula gigi Perdana agak gedean, jadi bisa gitu dibantu dengan ikatan benang buat nyopotinnya.

Lha ini… giginya Afkar kayak beras mentik, jadi gak tega buat tarik tambang di gigi itu :D. Afkar sih suka nanyain apa dia perlu ke dokter gigi buat nyopotin yang wobbly itu. Kita kasi penjelasan aja ke dia kalo emang gak perlu ke dokter buat nyabutin, toh nantinya kalo udah benar-benar goyang giginya bisa copot sendiri. Untungnya di skolah bu gurunya suka nyeritain kalo wobbly tooth bisa copot dengan cara kita makan stone fruits kayak pear dan apel. Alhasil Afkar sering ngingetin aku buat beli pear karena dia pingin makan buah itu biar giginya biasa copot.

Pas Kamis siang itu, lagi asik-asiknya dia nonton Power Rangers, dia minta buah pir. Aku tawarin buat dipotongin pir-nya biar gampang pas dimaem. Karena kebetulan pir yang kubeli gede-gede. Afkar bilang… no mummy, it’s fine, i can eat it… no need to cut! Wah bagus juga nih nasihat gurunya Afkar, biar si anak sekalian makan buah, ada rangsangan juga buat giginya yang goyang. Kan gigit-gigit buah keras begitu bikin giginya tambah goyang :D.

Begitu si buah pir tinggal separo dengan santainya Afkar bilang ke kita… look mom my tooth, sambil lalu dia nunjukin gignya yang ternyata udah copot. Hahh…

Waktu itu mas G lagi di rumah, dan kita berdua jadi senang, tapi campur kaget dan tegang juga. Kaget karena kok ya tiba-tiba si gigi langsung copot dengan sendiri begitu. Tapi senangnya acara pencopotan gigi ini berlangsung secara alamiah, jadi Afkar gak ngerasa takut dan deg-degan. Alhamdulillah diparingi gampang ya Cong…

Dan sekarang si bontot di rumah ini udah benar-benar jadi big boy, di tempat giginya yang tanggal udah mulai tumbuh gigi baru…