| HALAMAN DEPAN | DAPUR | MY STORE |

Jul
18
oleh Miming

Kapan hari aku bikin telur dadar super duper pedes. Ini sih bukan permintaannya mas G, aku sendiri yang pingiiiin. Rasanya kok enak banget gitu, pas dingin2 di sini, trus idung jg rada mampet, yang kebayang adalah yang pedes2. Apalagi maemnya ditemeni nasi panas yang masih mengepul, huaaaa… dijamin bikin anget badan :D.

Hmm… pas buka kulkas lagi sepi, persedian sembako udah terkuras. Kalo udah sikonnya begini, pasti deh temannya si nasi adalah lauk penyelamat: telur! Yup protein hewani ini harus selalu ada di dapur. Jadilah si telur ini aku bikin telur dadar pedes buat lunch kita, mas G dan aku. Anak2 terpaksa harus dibikinin yang lainnya, karena rasa telur dadar yang super duper pedes gak memungkinkan buat lidah mereka :D.

Bikinnya sederhana aja, telur dicampur sama bumbu merah, ditambah rajangan cabe rawit yg banyak, daun bawang dan seledri yang banyak jg. Lalu digorenglah seperti telur dadar, sambil lalu digulung. Sederhana kan…? Tapi jangan salah oii… mantap banget rasanya pas buat cuaca dingin *promo yang bikin;p*

Waktu aku bikin telur dadar ini tiba2 perasaanku jd mellow. Keingat sama Bapak dan Ummi. Keduanya adalah ortu mas G, mertuaku. Mungkin jg gara2 beberapa hari belakangan ini sering terima sms dari Bapak. Dan juga rasa kangen pingin ketemuan sama semua keluarga di Madura. Maklum udah 2,5 tahun gak mudik :((.

Suatu kebetulankah kalo aku tiba2 kangen sama mereka pas bikin telur dadar pedes ini..? Terutama kangen-ku sama Ummi yang akhir2 ini datang dan pergi..? Sebuah kenangan segitiga antara Ummi, Bapak, dan Telur Dadar Pedes, yang membuatku mellow siang lalu, mungkin itu jawabannya.

Begini…

Oktober 2000 Ummi wafat. Duh… aku lupa tanggal persisnya. Beliau meninggal kira2 3 tahun setelah operasi kanker rahim. Dan sebulan sebelum beliau meninggal, aku tinggal bersamanya di rumah mas G. Aku dan Perdana tepatnya, sementara mas G lagi di Yogya nyariin kita rumah sepulang kita dari Adelaide.

Ummi dikebumikan hari Minggu sore selepas Ashar. Malamnya selepas tahlilan, Bapak minta pada salah satu dr kita (anaknya yg cewek, tp lupa sama siapa ya..?)…’Tolong bikinin Bapak telur pedes spt yang Ibu-mu bikin…’. Kenangan indah Bapak dengan telur pedes buatan Ummi rupanya bisa menerbitkan selera makan beliau malam itu. Jadilah malam itu malam pertama Bapak makan malam tanpa ditemani masakan istrinya :(. Sedih saat membayangkannya…

Keesokan paginya, aku memergoki Bapak menangis di ujung tempat tidur. Kesedihan belum hilang dari hati beliau. Kali pertama aku melihat betapa rapuhnya seorang lelaki berpisah dengan belahan hatinya. Kala itu gak seorang pun dari kami yang berani mendekati Bapak, meski hanya untuk menghibur lara-nya. Lalu… Perdana-lah yang akhirnya kita ajak ke kamarnya Bapak, siapa tau dengan hadirnya Perdana, Bapak bisa tersenyum kembali.

Lagi2 untuk sarapan Bapak pagi itu, kita bikinin telur dadar pedes disamping lauk yang lainnya. Biar Bapak bisa berselera…, begitu yang ada dalam pikiran kita.

Bapak pasti punya kenangan tersendiri yang begitu indah dengan telur dadar pedes buatan Ummi. Begitu juga aku… Tidak, tidak dengan telur pedes buatannya. Rasanya belum pernah Ummi bikinin aku telur dadar itu, masakan yang dihidangkannya buatku selalu yang termewah. Beliau adalah ratu masak di rumah kita.

Kenangan dengan Ummi selalu kusimpan baik, di relung hatiku. Sungguh beruntung aku memiliki ibu mertua seperti beliau. Kehadirannya seperti ibu kandungku sendiri, tiada beda diantara keduanya. Mungkin bila banyak cerita beredar tentang hubungan mertua vs menantu yang digambarin seperti Tom And Jerry*ups… peace!*, Alhamdulillah hubunganku dengan ibu mertua jauuuuhhh dari penggambaran itu. Meski sangat singkat kurasakan hubungan mertua dan menantu ketika akhirnya waktu memisahkan dunia diantara kita. Tetaplah aku merasakan ‘kehadirannya’, kadangkala…

P.S. Judul sama isi cerita gak ada hubungannya ya hehehehe… Lah kalo dikasi judul Cinta Dalam Segulung Telur Dadar rasanya kok kurang komersil :D. Buat pencipta Cinta Dalam Sepotong Roti… saya pinjem judulnya ya… Tengkiu sekali :).

Ditulis:
18 July 2008 jam 2:01 pm
Ketegori:
My Family
Komentar:
Silakan berkomentar, atau trackback dari website Anda.
RSS:
Komen dalam posting ini bisa dilihat di RSS 2.0 feed.
Navigasi:

5 Komen di “Cinta Dalam Sepotong Roti”

  1. agil bilang:

    HIDUP TELUR DADAR!!! ini adalah makanan kebangsaan. Ibu, selalu selalu dan selalu membuatkannya untuk saya setiap pagi ketika saya hendak pergi sekolah. sampai” saya enek makan telur dadar terus. tadi pagi saya bangun agak siang, sengaja menghindari telur dadar itu, dan sengaja sarapan d sekolah. saya tidak tau perasaan ibu bakal seperti apa kalo masakannya ditolak, tapi stlh baca postingan ini saya berjanji bakalan terus makan telur dadar sampe upil keluar-keluar

  2. rama bilang:

    alhamdulillah, say sudah lihat blog n gambar cucu-2 kapan kepastiannya plg? di rumah sudah dipasang speedy kalo mo ngirim email kapan saja oke

  3. Diana bilang:

    Huaaa..kok aku jd sedih ya mba. Almarhum bapakku jg meninggalkan sejuta kenangan yg sdh pasti tak terganti. Alhamdulillah ibu tegar..hingga 20 tahun ini, tetap setia, tanpa menerima cinta yg lain…hihi, hidup telur dadar !

  4. Kaci Londagin bilang:

    I have noticed that charges for internet degree gurus tend to be an awesome value. For instance a full Bachelors Degree in Communication in the University of Phoenix Online consists of 60 credits from $515/credit or $30,900. Also American Intercontinental University Online comes with a Bachelors of Business Administration with a complete school feature of 180 units and a price of $30,560. Online learning has made taking your diploma far less difficult because you can certainly earn your own degree through the comfort in your home and when you finish working. Thanks for other tips I have learned through the website.

  5. Agen Bola bilang:

    Nice artikel. Jadi sedih nih. Thanks for share.

      Tinggalkan Pesan

« KEMBALI KE DEPAN